Kamis, 28 Juli 2011

Puisi Untukmu Sulis

Selasa pagi menjadi airmata

Langit pucat, samudera tak mampu berkata-kata

aksara membisu, lidahku kelu mendengar kabar pilu

sejenak hatiku mengadu

“Oh Tuhan, mengapa kau lakukan itu"


Kini jejak-jejak ingatan tentangmu seringkali kembali

menghampiri hari dimana canda kita tercipta

ah, seandainya engkau masih ada

mungkin mataku takkan berkaca-kaca


Demi segala kenangan yang kini menjadi kelabu

Kumohon padamu Tuhan

berikan ia tempat terbaik

tempat kekalnya segala sukacita; surga


Meski rindu kita belum berpamitan

aku akan tetap mengenangmu, Sulisma

duduk dengan khusyu bersama-sama lalu

Merapatkan jemari memohon doa


Sulis

Sabtu, 23 Juli 2011

Kujang

Setelah mondar-mandir bingung surfing di dunia maya, tak sengaja saya melihat senjata yang cukup unik. Sebenarnya sih ingin sedikit share saja tentang senjata ini, semoga bermanfaat untuk para pembaca.

Kujang adalah sebuah senjata unik dari daerah Jawa Barat. Kujang mulai dibuat sekitar abad ke-8 atau ke-9, terbuat dari besi, baja dan bahan pamor, panjangnya sekitar 20 sampai 25 cm dan beratnya sekitar 300 gram.

Kujang merupakan perkakas yang merefleksikan ketajaman dan daya kritis dalam kehidupan juga melambangkan kekuatan dan keberanian untuk melindungi hak dan kebenaran. Menjadi ciri khas, baik sebagai senjata, alat pertanian, perlambang, hiasan, ataupun cindera mata.

Menurut Sanghyang siksakanda ng karesian pupuh XVII, kujang adalah senjata kaum petani dan memiliki akar pada budaya pertanian masyarakat Sunda.

Kujang dikenal sebagai senjata tradisional masyarakat Jawa Barat (Sunda) yang memiliki nilai sakral serta mempunyai kekuatan magis. Beberapa peneliti menyatakan bahwa istilah "kujang" berasal dari kata kudihyang (kudi dan Hyang. Kujang (juga) berasal dari kata Ujang, yang berarti manusia atau manusa. Manusia yang sakti sebagaimana Prabu Siliwangi.

Kudi diambil dari bahasa Sunda Kuno yang artinya senjata yang mempunyai kekuatan gaib sakti, sebagai jimat, sebagai penolak bala, misalnya untuk menghalau musuh atau menghindari bahaya/penyakit Senjata ini juga disimpan sebagai pusaka, yang digunakan untuk melindungi rumah dari bahaya dengan meletakkannya di dalam sebuah peti atau tempat tertentu di dalam rumah atau dengan meletakkannya di atas tempat tidur (Hazeu, 1904 : 405-406). Sementara itu, Hyang dapat disejajarkan dengan pengertian Dewa dalam beberapa mitologi, namun bagi masyarakat Sunda Hyang mempunyai arti dan kedudukan di atas Dewa, hal ini tercermin di dalam ajaran “Dasa Prebakti” yang tercermin dalam naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian disebutkan “Dewa bakti di Hyang”.

Secara umum, Kujang mempunyai pengertian sebagai pusaka yang mempunyai kekuatan tertentu yang berasal dari para dewa (=Hyang), dan sebagai sebuah senjata, sejak dahulu hingga saat ini Kujang menempati satu posisi yang sangat khusus di kalangan masyarakat Jawa Barat (Sunda). Sebagai lambang atau simbol dengan niali-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, Kujang dipakai sebagai salah satu estetika dalam beberapa lambang organisasi serta pemerintahan. Disamping itu, Kujang pun dipakai pula sebagai sebuah nama dari berbagai organisasi, kesatuan dan tentunya dipakai pula oleh Pemda Propinsi Jawa Barat.

Di masa lalu Kujang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda karena fungsinya sebagai peralatan pertanian. Pernyataan ini tertera dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518 M) maupun tradisi lisan yang berkembang di beberapa daerah diantaranya di daerah Rancah, Ciamis. Bukti yang memperkuat pernyataan bahwa kujang sebagai peralatan berladang masih dapat kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat Baduy, Banten dan Pancer Pangawinan di Sukabumi.

Bagian-Bagian Kujang

Karakteristik sebuah kujang memiliki sisi tajaman dan nama bagian, antara lain : papatuk/congo (ujung kujang yang menyerupai panah), eluk/silih (lekukan pada bagian punggung), tadah (lengkungan menonjol pada bagian perut) dan mata (lubang kecil yang ditutupi logam emas dan perak). Selain bentuk karakteristik bahan kujang sangat unik cenderung tipis, bahannya bersifat kering, berpori dan banyak mengandung unsur logam alam.

Dalam Pantun Bogor sebagaimana dituturkan oleh Anis Djatisunda (996-2000), kujang memiliki beragam fungsi dan bentuk. Berdasarkan fungsi, kujang terbagi empat antara lain : Kujang Pusaka (lambang keagungan dan pelindungan keselamatan), Kujang Pakarang (untuk berperang), Kujang Pangarak (sebagai alat upacara) dan Kujang Pamangkas (sebagai alat berladang). Sedangkan berdasarkan bentuk bilah ada yang disebut Kujang Jago (menyerupai bentuk ayam jantan), Kujang Ciung (menyerupai burung ciung), Kujang Kuntul (menyerupai burung kuntul/bango), Kujang Badak (menyerupai badak), Kujang Naga (menyerupai binatang mitologi naga) dan Kujang Bangkong (menyerupai katak). Disamping itu terdapat pula tipologi bilah kujang berbentuk wayang kulit dengan tokoh wanita sebagai simbol kesuburan.

sumber :

http://id.wikipedia.org

Sabtu, 18 Juni 2011

Halah-halah

sedang bingung mencari cara agar blog aku ada hak ciptanya alias copyright biar gak di plagiat nih -_-

Jumat, 10 Juni 2011

Separuh Hidupku


Malam ini aku merajuk dengan sepi
Kembali tidur bersamanya dalam pelukan bantal guling tenangkan sanubari
juga kehangatan selimut damai berbalut bahagia
Tak lagi sepi coba singgah sejenak untuk menggangguku sesaat sebelum terlelap
yang biasanya dengan sengaja malam demi malam tega mengintimidasi dibalik tirai jendela
memenjarakan dan membelenggu batinku tanpa belas kasih

Lalu masih sudikah kuingat yang berkesudahan?
sedangkan kekasihku senantiasa bangunkanku dari mimpi semu yang sebenarnya
kaca bengala masa lampau yang telah berdiri kokoh dengan sendirinya
Kemudian aku bersumpah takkan kusinggung kisah rasa sepi lagi
bersumpah atas nama janji-janji yang membalut bulir luka tubuhku, hatiku, serta nadiku
biarkan pendosa tetap menjadi pendosa yang akan dihukum bersama
tengkorak-tengkorak serta kain kafan sebagai amal palsu pahalanya

Maka
Ijinkanku untuk sedikit berterima kasih pada
kelamin-kelamin malam yang bahu membahu menolongku menemukan
sekilas cahaya Bintang Timur yang kini melukis hati abstrak suramku menjadi
berwarna penuh kisah sukacita dan penuh keindahan surgawi serta setia
menelanjangiku dengan tak sadarkan diri di tengah lapangan kebahagiaan

Dan jikalau engkau mulai meredup
kumohon agar tetap kau biaskan cahayamu walau sedikit
walaupun hanya setitik kecil yang tak terlihat oleh mata telanjang orang awam
terkecuali diriku yang mampu melihat cahayamu karena sesungguhnya itu adalah

"Separuh Hidupku"

Sepenggal Kisahku


Sejenak kucoba mengingat apa yang terjadi dengan hari itu
bukan karena nafas-nafas matahari yang merayu agar aku terpagut dan menjadi sarapan makan siangnya hingga tubuhku yang lemah ini menjadi terjuntai tak berdaya dihadapan desiran ombak yang biasanya kudidik dengan kisah-kisah para nabi
dagingku tak dihabisinya dibiarkan membusuk bersama angin laut, sedang tulangku menjadi satu-satunya saksi bisu atas kematianku.

Bukan pula karena tipu muslihat dari sentuhan lembut bulan padaku sebagai ucapan maaf
oh sungguh ingin kuludahi jidatnya kurasa aku sudah bosan dengan tingkahnya sebagai pengkhianat yang tak menyampaikan rindu padamu

Maka ijinkanku untuk menjatuhkan bulan pada jurang sepi
Hancurlah dia berkeping-keping beberapa pecahan bagiannya telah dirampas oleh kabut malam
dan ditusukkan pada punggungku berkali-kali kubiarkan darah mengalir bersama sulur-sulur waktu yang tak bergeming menyaksikan itu
sungguh tak sebanding dengan betapa aku merindukan isi dari kekosongan hati ini bersamamu
hingga sang kabut merasa lelah dengan sendirinya dan membiarkan aku bersimbah darah ditemani segelas penuh rasa rindu padamu.

Bukan itu dan bukan pula itu namun karena aku coba menengadahkan wajahku bersama serat-serat luka serta bekas darah kental akan kenangan yang memisahkan antara keberanian jiwa yang kesepian dan kesedihan yang berlarut menghantui.

Sadarkah kau bahwa perasaan tak perlu diungkapkan dengan lisan yang mungkin hanya mengelabui serta bersilat lidah?
oleh karena itu biarkan kubuat bulan baru yang akan kuajarkan tentang pelajaran rindu sehingga dia akan khatam dengan sendirinya dan menemani hari-hari sepi nan lelahmu bukan memangkas apalagi meringkas harimu
kemudian dia akan berbicara lantang padamu bagaimana perasaanku yang sesungguhnya

Perlukah segudang kata-kata agar kau yakin sepenuh hati dan berharap Tuhan sedang melamun tentang akhir kisah kita? Percayalah biarkan semuanya terjawab bersama senyummu yang senantiasa mendamaikan anarkisnya hatiku.

Seusai Senja


Disaat waktu berebut senja...
Tak ada lagi bahagia sejati, entah mengapa duka dan emosi kian menyelimuti
Seperti jeritan persenggamaan angin malam dengan selang waktu jalang penuh birahi yang berontak pada akal sehat kehendak sanubari sambil memaksa rasa sesal agar tak datang pada hari setelah kejadian akhir yang tertulis jelas pada salah satu halaman buku 'Malam Tak Bersahabat'

Pernahkah kau rasakan kala tawa menjadi sebuah lamunan bersama tengkorak-tengkorak yang berkawan dengan burung-burung gagak berbaris rapih pada nisan-nisan tua tanpa nama?
Lalu munajat sucimu tak ubahnya seperti asal dupa yang berputar-putar terbawa angin penyeru kematian yang terhirup bersamaan dengan wangi melati dan mawar

Kemudian keramaian seakan diumpati kabur hitam pekat yang tak mungkin berpendar sedikitpun untuk menerangi jiwa gelap haus kebaikan
Maka haruskah terus-menerus meratapi nasibmu dibalik siluet pepohonan sambil menggerus dengus tangis tanpa henti? Yang tanpa sadar bahwa Dewi Malam juga terlihat meredup dan meredup lalu kian membisu saksikan ranum dunia itu.

Maka biarkan arwah-arwah roh halus yang gemar bersenandung lirih dan bergentayangan ditengah malam selalu menghampiri tubuhmu. Bersemayam utuh untuk menemani, membayangi, dan mengisi malam demi malam dengan kegelapan kekal.

Rabu, 23 Maret 2011

Bentuk Yang Tak Berbentuk


Coba membentuk bentuk-bentuk yang tak berbentuk
Dari seluk beluk panjang pendek rusuk merampas peluk
Menjarah hangat, menghadiahi dingin sambil mengutuk
Tulisan sampah macam apa ini apa aku mengantuk?

Masih coba membentuk bentuk-bentuk yang tak berbentuk
Mengatasnamakan sedikit ego....oh tak perlu muluk-muluk
Hanya kisah sukacita bukan kisah klasik yang terburuk
Apalagi senyum hina yang menusuk-nusuk

Maka jauhkanlah semuanya manakala hancur berkeping-keping
Dan tertawalah saat Tuhan tak mampu membimbing
Sia-sia kau satukan bentuk yang sebenarnya tak penting
Terserah, mungkin kau katakan aku orang sinting

Buang bentuk yang tak berbentuk untuk mengalah
Hanya halusinasi abadi percumbuan benar-salah
Melahirkan antrian suara hati menuju arah
Lalu menjebatani bentuk baru yang mengasuh amarah

Selasa, 22 Februari 2011

Sore Hari Ini

Ada yang aneh pada setiap tetesan rintik-rintik hujan sore ini...
Tetesan yang menjadi deras dengan cepatnya berlomba-lomba untuk membasah kuyupkan stalakmit-stalakmit bahagia lalu membeceki setiap sela-sela, ujung-ujung, sisi-sisi, sudut-sudut sempit yang menghimpit naif kesenangan sementara yang tak tahu kapan menjadi kesenangan abadi dan derasnya hujan sungguh tak ingin mengeringkan kesedihan, keterpurukan, juga ketidakberserahanan diri.

Ada yang aneh pada setiap tetesan rintik-rintik hujan sore ini...
tetesan hujan yang seakan tak ingin mereda, mengharu biru jiwa hampa, menderu dera derita dalam cerita lama pada setiap sub bab pertama buku tua tanpa pengarang yang menceritakan kisah klasik tanpa cerita menarik yang sebenarnya tanpa arti.

Terasa mengganggu serasa ingin mengadu oleh gaduhnya suara deras hujan ini, mengernyitkan dahi sambil meludahi sore, berkesinambungan menjadi kebodohan masa kini, kemudian percepatan langkah yang menapaki jalan basah semakin tak bisa dipahami walaupun seharusnya dapat dipahami tanpa harus dimengerti

Dari mata menjulang ke kaki merangkai setiap artian mata rantai hujan sore aneh tanpa arti, seperti menidurlelapklan jiwa muda mudi yang diracuni keindahan duniawi sehingga terpagut dan terperosok dalam ruang waktu antara kekanakan dan kedewasaan yang tak mampu untuk membangunkan sendiri tidur lelapnya yang sebenarnya adalah kematiannya.

Sang Malam Yang Malang

Izinkan kutikam dan kukeluarkan isi perut Sang Malam yang tak pernah bersahabat padaku manakala jalan yang terlihat lurus menjadi berliku-liku penuh kerikil tajam yang hendak menjungkirbalikkanku pada sisi kiri yang penuh dengan kegelapan sesat yang berawal dari garis-garis kecil aneh menjadikan sebuah arsiran rancu tanpa arti, maka jangan tanyakan mengapa?

Maka izinkan kutikam lagi dan kukeluarkan isi perut Sang Malam berikutnya yang mencoba bersahabat padaku, namun kuyakin itu hanyalah sandiwara palsu bak srimulat menampilkan lakon membosankan tanpa gelak tawa ikhlas pemirsa, maka jangan tanyakan mengapa?

Sekelibat bayang mengejekku, menantang dengan tegap tanpa gagap dengan penuh arogan lalu secuil senyum bengisnya semakin membuatku menjadi-jadi, dan benar saja aku tak kuasa, tak butuh waktu lama untuk menahan diri saat benak menjanjikan kesabaran tipis, percuma! Biar kubunuh saja!

Kuragu apakah itu tetesan-tetesan darah hangat membasahi tubuhku ataukah tetesan-tetesan rasa bersalah pada Sang Malam yang malang dan bayang aneh yang tinggal nama, lalu sambil terhuyung-huyung dan meraba-raba benar atau salah, hitam atau putih yang sedang kuhadapi aku terperanjak dan menggeram keras “biarkan saja, ini tak seberapa!”

Perlukah bertubi-tubi tanya tentang benar atau salah jejak-jejak yang kutapaki, sedangkan sulur-sulur waktu berdentang keras mengisi setiap udara dingin yang kuhirup hingga sesaknya nafas adalah pertanda bahwa benar atau salah hanyalah siluet kematian Sang Malam yang Tuhan tidak tahu.

Kemudian lantunan melodi kematian seakan tak henti menitikberatkan perbedaan antara waras atau tidak, antara sadar atau tidak, antara adil atau tidak, dan antara baik atau buruk, yang pada akhirnya terdengar lirih mengiringi pemakaman Sang Malam yang penuh kenistaan

Oh Tuhan, sungguh biarkan kupeluk erat hembusan angin yang menjelang pagi buta....
Biarkan kurebahkan tubuh lemahku pada semilir angin yang penuh keheningan dan ketenangan bak rajutan batang bambu indah masa lalu menjadi sebuah anyaman kebahagiaan masa kini.

Derap langkahku mulai tak terasa menuju matahari yang mulai terbit di ufuk timur lalu kubiaskan dengan hembusan nafas tersengal akibat tadi malam maka biarkanlah kulanjutkan sisa-sisa nafasku

Jumat, 04 Februari 2011

Adakah Kebahagiaan Untukku

Aku mematung dalam siluet cahaya dewi malam pada Jum’at malam bulan Februari
menghirup nafas yang tersengal akibat guratan-guratan luka halus dalam hati
memejamkan mata dengan enggan seakan tak percaya pada kehendak Tuhan
mengendurkan otot-otot simpatik dan parasimpatik sambil bertanya-tanya “apa aku bermimpi?”

Kurasakan sapuan angin melewati ceruk-ceruk wajahku yang tanpa air muka kala itu
sesekali gemericik air sungai terbias begitu indah akibat saling berbenturan dengan batuan
hanya kedua temanku tak pernah beranjak dari sisi karena loyalitasnya “kegelapan dan kesepian”
merekalah teman terbaik yang tidak pernah memandang usia serta kelas sosial, oh temanku

Aku tersedar sejenak untuk berpikir rasional “adakah kebahagiaan untukku?”
Keadaan selalu membuatku tak berdaya dan ketidakadilan selalu membuntutiku, dimana Tuhan!
Aku menyumpah, menghujat, menghakimi semuanya yang telah terjadi begitu cepatnya
Dengarkan aku oh Tuhan! Apa keinginanmu memporak-porandakan hati lemahku ini!

Sesungguhnya aku hanya ingin sedikit keadilanmu oh Tuhan
Berikan sedikit cahaya pada hati lemahku ini, agar terbiasa dari gelapnya rasa sakit
Kuatkan ketidakpantasan hatiku dari yang sebenarnya bukan hak dari milikku
Sadarkan aku dari mimpi indah, dan berikan aku sedikit kebahagiaan.